Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Padel: Mengapa Olahraga Campuran Tenis-Squash Ini Tiba-Tiba Viral di Kalangan Anak Muda Jakarta?

Terkadang, rasanya seperti ada tombol untuk Jakarta untuk menciptakan tren baru. Ingat hype pilates? Atau sebelum itu, tren lari maraton di mana sepertinya semua orang memiliki medali finisher? Kemudian, kopi dengan gula merah yang menjadi kewajiban sosial setiap kali kami bertemu. Sekarang, ini adalah padel. Ada lapangan kaca terang, musik yang memompa adrenalin, raket kecil seperti tenis, dan orang-orang dengan athleisure yang ramping yang terlalu modis untuk berkeringat. Rasanya seperti itu muncul di Instagram Stories sekaligus —semua yang dibutuhkan adalah seminggu offline bagi seseorang untuk melewatkan seluruh bab kehidupan sosial mereka.

Jika kita ingin melacak akar penyebabnya, padel bukanlah olahraga baru. Ini dimulai pada tahun 60-an di Meksiko, meledak di Spanyol, dan secara bertahap negara lain ikut serta. Tapi apa yang membuat kasus ini di Jakarta, dan tumbuh begitu cepat, adalah bahwa olahraga ini tidak datang sebagai kompetisi, tetapi sebagai tempat berkumpul dengan aktivitas fisik di dalamnya. Orang-orang ingin menggerakkan tubuh mereka, tetapi juga ingin tertawa, bersama teman-teman, dan bersenang-senang. Mungkin kebutuhan kolektif untuk keluar rumah dan bersosialisasi terlalu lama adalah apa yang membuat olahraga ini. Dan padel memberikan itu tanpa syarat.

Rasanya padel itu seperti tennis yang lebih mudah. Ada squash juga sih, tapi tidak secepat itu. Permainan ini tidak ribet, simpel, dan lebih kecil. Rally bisa cepat tercipta. Apalagi asiknya lebih dari sekedar fun, padel viral mungkin karena memberikan rasa aman. Di tennis servis bisa gagal berapa kali. Membuat orang malu. Di squash juga sih, nanya orang di belakang dan bermain lebih banyak napas (sprint) daripada mendapat skor. Di padel tidak gitu. Salah pukul ketawa, dinding buat teman tidak dapat point, denger sorakan pahlawan dan nambah ketawa. Ada chaotic fun.

Kemarin, attach ke Padelin. Ana muda jaksel lagi nyari sport, produktif tapi tidak pusing mental. Kerja Flex, kolaborasi (over) tanpa berdekatan, input tinggi, liatin layar. Alasan olahraganya padel. Diantre ribuan orang, sosmed, santai, energik, sosial. All in, padel.

Olahraga mulai menjadi bentuk identitas, berkat tren baru ini. Terlihat sedikit dramatis, tetapi semua orang tahu perasaan menjadi orang yang berbeda dari kelompok saat semua orang melakukan hal yang sama. Terutama di kota seperti Jakarta di mana ada label di mana-mana. Ada anak-anak yang suka pergi ke gym, anak-anak yang berlari, dan sekarang, anak-anak yang bermain padel.

Tren ini tentu saja dipicu dan diperkuat oleh media sosial. Sangat mudah untuk membuat konten yang menarik secara visual berdasarkan lapangan kaca yang terawat baik dan gerakan cepat. Bahkan pemain pemula pun bisa memposting foto pertandingan yang layak mendapat tempat di feed dan menyelesaikannya. Ada perasaan pencapaian cepat yang bisa didapat dari olahraga ini, berbeda dengan yang lain di mana Anda mungkin tidak merasa berhasil hingga Anda kehilangan sedikit berat badan dari pelatihan yang terus menerus. Tetapi lebih dari keberhasilan cepat yang dibawa oleh olahraga ini, orang-orang hanya ingin terhubung. Olahraga kebetulan menjadi wadah dalam hal ini.

Satu hal yang pasti, kini sangat tidak mungkin bagi para pegolf dan pemain padel yang mau bergerak dari Jakarta Selatan dan BSD tidak mendapat lapangan padel, entah lapangan yang baru buka di BSD, Jakarta Selatan dan Barat, baru dari BSD sampai Jakarta raya, semua sudah. Nggak bisa slot padel - tidak bisa, baru di BSD, Jakarta Selatan Barat, BSD tidak bisa. Group WhatsApp padel sudah mulai diisi. Nggak cuma pemain padel profesional, pegolf bisa, kantor, profesional pegolf kantor, ekspatriat, mahasiswa, influencer, bahkan orang mulai menambahkan lapangan. Ada yang sangat padel dan ingin bercanda, tanpa padel. Nggak ngerti padel di pasaran, padel. tanpa sadar, kita hanya melihat dari satu persatu, baru tertawa kecil. Untuk merangkum definisi 'tempat aman, tanpa penilaian' yang kita butuhkan.

Apakah padel akan terus eksis? Sulit dinilai, apalagi mengingat betapa cepatnya tren berpindah di kota ini. Berbagai cabang olahraga seringkali mengalami lonjakan minat yang bertahap menurun. Misalnya, sepeda yang memadati jalan di awal pandemi, lalu yoga yang tenang dan sepi seiring waktu sebagai latihan pribadi. Beruntung padel memiliki kombinasi yang sedikit berbeda, yaitu olahraga, hiburan, dan kompetisi. Jarang ada orang yang merasa mampu untuk tidak ikut.

Yang lebih menarik, komunitasnya nyaris terbentuk secara otomatis. Banyak dari mereka yang awalnya hanya ingin menemani teman, lalu datang kembali bukan untuk olahraga, melainkan untuk komunitas sosial yang terbentuk. Karena di manapun, manusia cenderung kembali ketempat di mana mereka merasa memiliki ruang.

Di tengah kehidupan yang sibuk, padel adalah cara sederhana untuk menenangkan pikiran. Ada hari-hari di mana beban pikiran datang dari berbagai aspek kehidupan, entah itu pekerjaan, hubungan, keluarga, dan lain sebagainya. Parahnya, beban pikiran ini sering datang tanpa disadari. Ternyata, sekadar memukul bola yang dipantulkan ke dinding menggunakan raket sudah cukup untuk mengurangi dan merelaksasi beban pikiran.

Terkadang, saya juga mempertanyakan hal ini. Apakah olahraga ini sepopuler itu karena asyiknya permainan yang disajikan? Atau karena kita semua sebenarnya hanya sedang mencari alasan untuk berhenti sejenak, dan bernapas?

Mungkin ada skeptis di luar sana berpikir: "Oh, ini hanya mengikuti tren." Tetapi bukankah hidup memang seperti itu? Kita mencoba hal baru, lalu berpindah ke hal yang baru lagi, dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Ada saat-saat kita ingin terlihat hebat, dan ada saat-saat kita hanya ingin merasa hidup.

Suara dan energi para pemain padel ini. Ada pekikan kecil saat mengembalikan bola dan ada tawa saat melakukan smash loser, namun berhasil mencetak poin yang diharapkan. Momen spontan di mana masing-masing pemain saling memberikan high-five tanpa merasa gengsi satu sama lain. Gamer dan perfeksionis tidak diharuskan. Ruang untuk bersenang-senang dalam hidup just Info padel ini semakin berkurang. Padle ini semakin padat. Ini cara untuk mengingatkan diri kita cara untuk mengingat diri kita. Mengingat kita bukan untuk bekerja, dan bukan untuk membuktikan.

Capai, namun bukan itu olahraganya yang kita lakukan. Tetapi olahraga ini memberikan jeda dari hidup. Jeda dari hidup yang padat, dari ponsel. Padle ini menjadi olahraga untuk menyegarkan pikiran. Mengedukasi, kita mengalihkan fokus kita. Kita berkeringat, kita bercanda. Tetapi perasaan itulah yang kita kejar, perasaan yang ringan.

Sulit untuk menentukan apakah yang dicintai tentang padel adalah permainan itu sendiri atau suasana luar biasa yang menyertainya. Tapi mungkin itu adalah jawaban yang tidak perlu dijawab. Semua yang dirasakan adalah padel membuat hidup sedikit lebih hangat. Setidaknya, untuk sekarang, itu pasti benar. Dan terkadang, sedikit kehangatan jauh lebih dari cukup.

Posting Komentar untuk "Padel: Mengapa Olahraga Campuran Tenis-Squash Ini Tiba-Tiba Viral di Kalangan Anak Muda Jakarta?"